Wednesday, June 1, 2016

Menyeduh Kopi Tubruk, Kopinya orang Indonesia


“Ngopi” sepertinya sudah menjadi agenda wajib saya setiap hari. Belajar ngopi pertama kali waktu masih SD. Di tempat asal saya, ngopi merupakan aktivitas yang sangat biasa buat kaum lelaki disana. Yang enak itu memang ngopi di warung, kalo sekarang istilahnya kedai kopi, coffee shop, dll. Ngopi di rumah juga seru sih, cuma warung selalu menyajikan sensasi ngopi yang berbeda.  Hmmm.. karena menurut saya, ngopi buat kalangan bangsa melayu (termasuk Indonesia) merupakan ajang buat berdiskusi, ngobrol, tukar pikiran dll. Beda mungkin sama budaya ngopinya orang ‘barat’ eropa atau amerika. Kalo kita perhatikan (terutama saya yang memperhatikan), beda budaya ngopi kita dengan western itu terbukti juga dari metode menyeduh kopi. Biasanya sih mereka menyiapkan kopi dengan metode yang cepat, seperti espresso.

Orang Indonesia secara tradisional menyeduh kopi itu dengan cara ‘tubruk’, yang menggodok kopi + gula dengan air panas di gelas tempat minum kopi, sehingga di gelas kopi kita ada ampas kopinya. Nah, ini dia gaya ngopinya orang Indonesia menurut saya. Kopi tubruk itu gak bisa serta merta setelah diseduh air panas bisa langsung dinikmati. Butuh waktu yang agak lama sehingga kita bisa menikmati ngopinya. Menunggu kopi terekstraksi dengan baik dengan metode ini paling tidak butuh waktu 4-6 menit. Idealnya setelah diseduh dengan air panas, jangan diaduk dulu kopinya. Diamkan aja sehingga air panas terserap menyeluruh ke dalam pori-pori bubuk kopi.. Ya.. lebih kurang 4-6 menit. Setelah 6 menit kopi tubruk baru diaduk, kalo ada yang mau menambahkan gula, menurut saya ditambahkan saat kita mengaduk kopi ini. Ya.. kira-kira 1 menitlah buat ngaduk-ngaduk. Yapp.. sudah 7 menit waktu berlalu.. Dan... kopi ini juga belum bisa dinikmati lhoo.. bisa sih kalo mau menghirup ampas-ampasnya juga kedalam mulut. Kira-kira butuh waktu sekitar 5 menit lagi supaya ampas kopi di gelas turun ke dasar gelas sehingga kopi tubruk bisa dinikmati dengan nikmat. Sampai tahap ini kita sudah menghabiskan waktu 12 menit. Dan.. waktu 12 menit ini gak seru banget kalo cuma dihabiskan dengan diam menunggu. Paling asyik ya ngobrol khaaan... Nahh.. ini dia kenapa budaya asli ngopi di Indonesia itu identiknya dengan nongkrong, dan ngobrol.  Lagian.. setelah 12 menit tadi itu emang kopinya mau langsung dihabiskan?? Saya sih engga.. nikmatnya ngopi itu ya diminum satu seruput satu seruput.. Sambil ngobrol kaan... Itu dia menurut saya kenapa budaya ngopi orang Indonesia itu aslinya adalah identik dengan warung, ngobrol, diskusi, bahas politik, bahas macem-macem.. 

Kopi Kawa Legendaris


Penggemar kopi seperti perlu menambahkan referensi kopinya dengan minuman yang satu ini. Kawa (dikenal juga dengan: Aie Kawa; Kopi Kawa) merupakan salah satu minuman tradisional dari Sumatera Barat. Minuman ini terbuat rebusan daun kopi yang sudah dikeringkan dengan metode pengasapan. Konon ceritanya, jaman penjajahan Belanda dahulu (mungkin periode tanam paksa), rakyat pribumi dipaksa untuk menanam kopi dan hasilnya diperdagangkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Rakyat yang punya tanah, menanam dan merawat tanaman kopi ini tidak diizinkan untuk menikmati biji kopinya sendiri. Mungkin karena biji kopinya dilarang sama penjajah, sehingga rakyat hanya bisa membuat minuman dari daun kopi. Dan jadilah minuman Kopi Kawa ini menjadi minuman khas tradisional dari Sumatera Barat.

Ada keunikan tersendiri saat menyeruput kopi kawa ini. Sekilas rasanya seperti minum teh, namun ada cita rasa unsur kopi pula di dalamnya. Di daerah asalnya, Kopi kawa ini disajikan dengan metode tradisional. Dan metode tradisional yang dipertahankan inilah yang menjadi daya tarik untuk menikmati kopi kawa ini. Mulai dari proses mengeringkan daun kopi dengan asap, kemudian merebusnya dengan kayu bakar di dalam bejana (tembikar) yang terbuat dari tanah liat. Aie Kawa ini kemudian disajikan dengan tempurung kelapa (batok). Kopi kawa dapat dinikmati secara original (tanpa gula), ditambah gula, ditambah susu atau madu. 


Sebelum cukup terkenal seperti saat ini, Kopi Kawa awalnya hanya dapat dinikmati di daerah Bukittinggi hingga jalan lintas yang menghubungkan Bukittinggi dengan Tanah Datar di Sumatera Barat. Kopi Kawa biasanya disajikan dengan cemilan gorengan bakwan dan bika panggang. Udara dingin di kaki Gunung Merapi di kawasan ini sangat nikmat dihangatkan dengan Kopi Kawa Daun ini. Namun, saat ini Kopi Kawa sudah bisa dinikmati di daerah Jakarta, Padang, Bandung dsb. Bahkan, denger-denger sudah ada dalam bentuk kemasan seperti tea bag.